:: 5 Kebiasaan Ini Harus Ditanyakan Sebelum Minum Obat ::

5 Kebiasaan Ini Harus Ditanyakan Sebelum Minum ObatCNI C715 – Saat mendapati si anak sakit, para orangtua kerap seperti “hilang akal”. Segala cara pun dilakukan, termasuk membeli obat dan menuruti saran apa pun, termasuk anjuran atau kebiasaan konsumsi obat yang tak sepenuhnya benar. Padahal, beberapa kebiasaan berisiko menyebabkan obat tidak terserap sempurna.

“Ada beberapa anjuran yang sebaiknya tidak dituruti meski sudah jadi kebiasaan. Orangtua tidak boleh asal nurut, dan harus menanyakan pada dokter bagaimana cara mengonsumsi obat yang benar,” kata dokter spesialis anak, Wiyarni Pambudi.

Setidaknya, terdapat lima kebiasaan umum yang harus ditanyakan sebelum mengonsumsi obat:
1. Minum obat setelah makan
Tidak semua obat bisa diminum setelah makan. Beberapa di antaranya ada yang dikonsumsi sebelum makan, misalnya untuk pencernaan. Hal ini sama seperti konsumsi suplemen vitamin B.

“Suplemen vitamin B harus dikonsumsi sebelum makan supaya bisa terserap usus dengan sempurna. Jika makan dulu maka penyerapan vitamin B akan terganggu,” kata Wiyarni.

2. Minum obat tiga kali sehari
Frekuensi minum obat, terang Wiyarni, seharusnya dijelaskan dengan aturan jam bukan kuantitas. Aturan jam ini memungkinkan obat terserap tubuh dengan baik dan menghindarkan salah pengertian pada pasien.

“Kalau aturan tiga kali sehari maka bisa saja pasien minum sesuai dosis pada satu waktu. Cara konsumsi obat seperti itu tentu salah. Karena itu lebih baik dikatakan minum obat 8 jam sekali,” kata Wiyarni.

3. Pemberian sediaan sirup dengan sendok teh
Anjuran tersebut kerap ditemukan pada kemasan obat yang dijual bebas atau over the counter (OTC). Menurut Wiyarni, pemberian anjuran tersebut tidak tepat karena tidak semua orang memiliki pemahaman yang sama terkait ukuran sendok teh. Bila dosis yang dikonsumsi tidak tepat, maka pasien akan sulit sembuh dari sakitnya.

Pemberian obat sediaan sirup lebih baik diberikan dalam ukuran volume, misal ml atau cc, dengan gelas ukur atau sendok tertentu yang sudah disediakan produsen obat.

4. Konsumsi obat sampai habis
Tidak semua obat harus dikonsumsi sampai habis, misalnya antibiotik sediaan sirup untuk bayi dan anak. Sediaan sirup membutuhkan 15-20 hari sebelum habis, padahal sebelum habis biasanya anak sudah sembuh.

“Sebaiknya tanyakan sampai kapan harus mengonsumsi obat tersebut. Bila tidak juga sembuh sampai hari yang ditentukan maka konsultasikan kembali dengan dokter,” kata Wiyarni.

5. Obat diberikan sebagai bentuk pencegahan
Obat tidak diberikan untuk pencegahan. Konsumsi obat bertujuan untuk menyembuhkan pasien yang sudah sakit.

“Paracetamol misalnya, hanya diberikan bila suhu mencapai 38,5° C. Jika belum mencapai suhu itu maka paracetamol tidak memberi manfaat untuk menurunkan panas,” kata Wiyarni.

Pemberian obat sesuai dosis
Selain lima kebiasaan tersebut, Wiyarni juga menyarankan orangtua tidak memberi obat dengan asal minum, oles, atau tetes. Tiap pemberian obat harus sesuai sasaran dan dosis pemberian. Wiyarni mencontohkan pemberian obat tetes mata biasanya diberikan di kornea. Padahal pemberian obat tetes seharusnya di bagian kantung mata, untuk menyembuhkan iritasi atau gatal.

Bila obat diberikan dalam jangka panjang, maka orangtua harus tahu indikasi dan manfaat bagi anak. Meski obat tidak menimbulkan ketergantungan, beberapa jenis suplemen ternyata menimbulkan adiksi. Misal penambah daya tahan tubuh atau Immunoglobulator. (Kompas)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s