:: Perubahan Pola Makan yang Bisa Atasi Gangguan Pencernaan ::

Perubahan Pola Makan yang Bisa Atasi Gangguan PencernaanCNI DC715 – Diare dan sembelit adalah beberapa tanda atau gejala sindrom perut sensitif (irritable bowel syndrome atau IBS). Ternyata, gangguan pencernaan ini salah satunya bisa diatasi dengan mengubah pola makan.

Berikut ini cara mengatasi IBS dengan makanan seperti yang disarankan Dr. Tan Chi Chiu, ahli gastroenterologi dari rumah sakit Gleneagles Singapore.

1. Makanan penghasil gas
Hindari makanan penghasil gas seperti kacang merah, bawang bombai, seledri, wortel, kismis, dan pisang. Makanan tersebut hanya akan memperparah gejala IBS.

2. Produk susu
Jika Anda mengalami intoleransi laktosa, hindari produk olahan susu seperti keju, mentega, es krim, yoghurt, dll. Meski insiden IBS tak jadi semakin tinggi, makanan tersebut bisa memperparah gejala IBS.

Gejala yang diduga IBS bisa saja ternyata disebabkan oleh sensitivitas terhadap komponen susu selain laktosa. Jika makanan penghasil gas sudah berhenti dikonsumsi tapi gejala IBS masih terasa, Anda bisa mencoba menghentikan konsumsi susu dan produk olahannya.

3. Diet rendah FODMAP
FODMAP (Fermentable Oligo-Di-Monosaccharides and Polyols) adalah makanan yang mengandung karbohidrat rantai pendek yang tak diserap sempurna oleh usus kecil. Contohnya adalah gandum, susu, apel, dan permen yang mengandung xylitol.

Anda bisa mencoba menghentikannya selama 6-8 minggu, lalu perlahan mulai santap kembali satu per satu untuk melihat makanan mana yang menyebabkan IBS dan makanan mana yang tidak.

Studi menunjukkan bahwa cara ini bermanfaat untuk sakit perut, kembung, perut bergas, dan ketidaknormalan konsistensi kotoran. Bagaimanapun juga, konsultasikan dengan ahli diet untuk mencegah pembatasan makanan berlebihan.

4. Makanan mengandung gluten
Setelah menghindari makanan penghasil gas dan mencoba diet rendah FODMAP, Anda bisa mencoba menghindari makanan yang mengandung gluten seperti roti selama dua minggu.

Sensitivitas Gluten Non Coeliac (NCGS) diduga menjadi penyebab gejala IBS. Pasalnya, gluten terbukti mengubah fungsi penghalang dari usus pada IBS-D atau diare.

5. Uji alergi makanan
IBS bisa juga disebabkan oleh alergi makanan. Untuk menentukan makanan mana yang menyebabkan alergi, bisa dilakukan tes dengan serum immunoglobulin, prick test (pada kulit), tes radioallergosorbent (RAST), atau atopy patch testing (pada kulit). Tes rutin tak disarankan.

6. Serat
Mengatasi IBS dengan serat pangan tergolong langkah yang kontroversial. Sebab, ada beragam hasil dari metaanalisis. Angka keefektifan pengobatan IBS dengan cara ini adalah 6 (NNT=6), yang berarti treatment ini kurang efektif.

Bagaimanapun juga, tak ada efek samping serius yang dilaporkan selain kembung atau perut bergas. Bagi penderita IBS-C atau sembelit, Anda bisa mulai mengonsumsi makanan sumber serat seperti gandum utuh, buah segar atau kering, dan sayuran. Cobalah sedikit demi sedikit untuk melihat efeknya.

7. Bagaimana dengan probiotik?
Produk yang mengandung probiotik seperti yoghurt disebut-sebut baik untuk pencernaan dan bisa membantu mengatasi IBS. Namun, Dr. Chiu tak menyarankannya dikonsumsi rutin.

Meski memiliki kaitan dengan membaiknya gejala, manfaatnya tak begitu besar dan tak konsisten. Selain itu, tak jelas mana spesies dan strain bakteri yang paling efektif.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s