:: Puasa Ramadhan dan Perilaku Konsumtif ::

Puasa Ramadhan dan Perilaku KonsumtifCNI DC715. Sulit dimungkiri sebagian besar dari kita seringkali masih memaknai kehadiran puasa Ramadan sebagai momen untuk menunjukkan peningkatan perilaku konsumtif secara drastis dibandingkan bulan-bulan lain. Pola pikir itu kemudian mendorong kita bersikap permisif terhadap perilaku konsumtif.

Secara sederhana perilaku konsumtif dapat diartikan dengan membeli atau menggunakan barang tanpa pertimbangan rasional atau bukan atas dasar kebutuhan. Sebagai contoh, ketika waktu berbuka puasa tiba kita cenderung menghidangkan sajian makanan dan minuman secara berlebihan atas dalih karena telah menahan rasa lapar dan dahaga dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Hal ini seakan menjadi sebuah fenomena biasa yang terjadi setiap tahun pada saat bulan Ramadan tiba.

Fenomena yang terjadi, awal Ramadhan akan terjadi lonjakan harga. Dari harga daging, telur, ayam, beras dan diikuti oleh harga-harga lainnya. Sehingga kita harus mengatur strategi sebaik mungkin agar kondisi keuangan tetap sehat selama bulan Ramadhan. Bahkan mungkin beberapa orang sudah mempersiapkan kenaikan harga dengan menimbun bahan pokok seminggu sebelum Ramadhan.

Entah mengapa ketika Ramadhan, kebiasaan masyarakat Indonesia adalah mengkonsumsi takjil berupa kolak, es buah dan gorengan. Otomatis harus menyiapkan menu-menu tambahan yang sudah menjadi tradisi tersebut untuk berbuka puasa.

Membeli baju dan mukena baru juga merupakan fenomena yang terjadi ketika Ramadhan. Baju baru itu dipergunakan untuk Hari Raya. Entah darimana asal muasalnya, tetapi belanja baju baru untuk lebaran adalah hal yang biasa terjadi. Bahkan beberapa hari sebelum memasuki bulan Ramadhan, beberapa orang sudah sibuk untuk berburu baju baru dan mukena.

Orang terpaksa mengeluarkan biaya yang lebih besar ketika bulan Ramadhan untuk memenuhi kebutuhan perut dan mengikuti trend.

Sungguh menjadi sebuah ironi bila perilaku konsumtif justru marak terjadi di bulan Ramadhan. Dengan menjalankan ibadah puasa Ramadan seharusnya kita dapat lebih menahan diri untuk tidak bersikap konsumtif dan menahan berbagai kemauan berlebih di dalam diri kita. Selama menjalankan ibadah puasa satu bulan penuh kita dilatih untuk menahan hawa nafsu untuk tidak makan dan minum serta melakukan hal-hal lain yang dapat membatalkan atau mengurangi nilai ibadah puasa.
Bulan Ramadhan adalah saat untuk mendetoks tubuh dengan membuang racun-racun baik secara fisik maupun psikis. Ramadhan adalah ajang untuk berlatih konsumtif. Bukan konsumtif untuk membelanjakan uang lebih banyak untuk kebutuhan duniawi, tetapi konsumtif terhadap ibadah dengan cara selalu ingin membeli menu-menu ibadah sepanjang bulan Ramadhan. Sholat sunnah, memperbanyak tilawah Al Quran, memperbanyak doa terutama di waktu-waktu mustajab, bersedekah, memperbanyak I’tikaf dan lain-lain.

Dari Abu Hurairah RA: adalah Rasulullah SAW yang memberi kabar gembira kepada para sahabatnya dengan bersabda,“Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi. Allah mewajibkan kepadamu puasa di dalamnya; pada bulan ini pintu-pintu surga dibukakan, pintu neraka ditutup dan para setan diikat; juga terdapat pada bulan ini malam yang lebih baik dari seribu bulan, barang siapa tidak memperoleh kebaikannya, maka ia tidak memperoleh apa-apa.” (HR. Ahmad dan An Nasa’i)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s